apapun yang kita inginkan.
Adaorang berpendapat bahwa usia 62 tahun
adalah usia yang sangat telat untuk mencapai
sebuah cita-cita. Kita tak perlu mencapai usia 62
tahun untuk percaya bahwa usia ini sangat telat
untuk meraih sebuah mimpi. Pada kenyataannya,
ada pemuda yang baru berusia 26 tahun ketika
perasaan terlambat itu hingap. Suatu saat pemuda
tersebut diajak temannya untuk masuk
universitas. “Tapi aku terlalu tua” dalihnya.
“Setiap orang LULUS ketika mereka berusia 22
tahun, sementara aku sudah berusia 26 dan
belum memulai apapun”
Lalu temannya berkata, “Dalam empat tahun ke
depan, kamu akan empat tahun lebih tua – baik
kamu kuliah atau tidak. Manakah yang kau pilih,
empat tahun lebih tua dengan gelar, atau empat
tahun lebih tua tanpa gelar?” Kata-kata tersebut
mengubah pandangan si pemuda. Ia tiba-tiba
menyadari bahwa ia tak pernah terlalu tua untuk
meraih mimpinya. Jadi, ia mulai kuliah. Setelah
memompa semangatnya dan menyingkat masa
studinya menjadi tiga tahun, ia berhasil meraih
gelar yang ia idamkan, lalu memutuskan untuk
melanjutkannya hingga jenjang yang lebih tinggi.
Lihatlah, tak ada kata terlambat kan? Kecuali kita
tidak memulai apapun.
Benarkah bahwa kita tak pernah terlalu tua untuk
memulai karir baru atau membuat perubahan
dramatis dalam kehidupan kita? Bagaimana jika
kita berusia 72 atau bahkan 82 tahun? Apakah
seusia itu kita terlambat untuk mempelajari
bahasa baru? Ah, tidak juga. Dua ratus tahun lalu
negarawan Roma, Cato, mempelajari bahasa
Yunani pada usia 80 tahun. Bisakah kita lebih
kreatif di usia itu? Bagaimana dengan Goethe?
Mahakaryanya, ‘Faust’ belum sempurna hingga ia
berusia 80 tahun. Dan Michelangelo berusia 71
tahuh ketika ia melukis Kapel Sistine.
Butuh contoh lebih banyak? Luigi Cornaro,
seorang terpelajar dari Venesia, mulai menulis
geriatrik pada usia 83 tahun. Risalah klasiknya
‘The Joys of Old Age’ ditulis [ada tahun 1562
ketika ia berusia 95 tahun! Di era modern,
seorang filosof besar, ahli matematik, dan pecinta
perdamaian, Bertrand Russell, berpartisipasi dan
ditahan dalam sebuah demonsttasi anti nuklir
ketika ia berusia 89 tahun. Dan tentu saja kita tak
bisa melupakan Nenek Moses, yang mulai
melukis di usia 80. Tahukan anda bahwa sekitar
25% lukisannya yaitu sebanyak 1,500 lukisan
dibuatnya setelah ia berusia 100 tahun?
Kemudian ada Henry Little, seorang Presiden
Direktur dari The Institution for Savings di
Newburyport, Massachusetts, memutuskan untuk
pensiun sehingga orang yang lebih muda bisa
mengambil alih. Tuan Little pensiun ketika ia
berusia 102 tahun! Orang lebih muda yang ia
maksud ternyata berusia 83 tahun.
Sedikit Pelajaran
Apa yang bisa kita pelajari dari contoh-contoh di
atas? Mereka semua sangat berhasrat tinggi dalam
melakukan apa yang meraka kerjakan. Hasrat atau
passion adalah sumber energi dan membuat
seseorang tetap awet muda, sebagaimana yang
ditulis Benjamin Franklin,
“Mereka dengan cinta mendalam tak pernah tua,
mungkin saja mereka meninggal karena usia tua,
tapi sesungguhnya mereka mati muda.”
Mereka juga menyadari, bahwa lebih baik
menjadi 70 tahun lebih muda daripada berusia
40 tahun, sehingga mereka tidak membiarkan
usia menghambat mereka untuk mengejar mimpi.
Mereka memahami bahwa tak ada kata terlambat
untuk mulai mengerjakan sesuatu, dan saat ini
lah waktu untuk bertindak. Tidak seperti King
Richard II, mereka tidak pernah berkeluh kesah,
“Aku menyia-nyiakan waktu, dan sekarang waktu
lah yang menyia-nyiakan aku”
Pelajaran lain yaitu ketika peluang muncul,
mereka terjun ke dalamnya. Memang, pasti ada
resiko di dalamnya, tapi mengapa kita takut akan
kehidupan? Kematian, mungkin, tapi tidak dengan
kehidupan. Rita Coolidge menyadari pentingnya
hal ini ketika ia berkata,
“Terlalu sering peluang datang mengetuk, tapi
saat kita melepas rantai, melepas gembok,
membuka kunci dan mematikan alarm pencuri,
saat itu sudah terlambat.”
Satu hal, bahwa obat mujarab untuk tetap awet
muda adalah pengalaman dan pengetahuan baru
yang kita dapat setiap hari. Rupanya Henry Ford
merasakan hal serupa, ketika ia berkata,
“Siapapun yang berhenti belajar adalah kaum tua,
tak peduli terjadi di usia 20 atau 80. Siapapun
yang tetap belajar tidak cuma awet muda tapi
tetap bernilai, tanpa memperhatikan kapasitas
fisiknya.”
Pada akhirnya, ada pepatah Arab yang patut
dipertimbangkan,
“Ketika kau lihat orang tua yang ramah tamah,
berwatak halus, mantap, berisi, dan mempunyai
selera hmor yang baik, yakinlah bahwa
kemudaan, kemurah hatian, dan kesabaranlah
yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka tidak
meratapi masa lalu, juga tidak takut pada masa
depan; mereka seperti waktu malam di ujung hari
yang menyenangkan.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar