Dalam agenda hidup saya, kata ini lama sekali tak
pernah ada. Kala pertama saya hendak
memaafkan dengan sungguh- sungguh, susahnya
luar biasa.
Ada saja yang menghalangi saya berani
melakukan tindakan yang mudah diucapkan dan
sulit dilakukan itu, terutama untuk mereka yang
pernah menyakiti hidup saya, yang menggosipkan
saya bahwa saya tukang gosip hanya karena saya
mengucapkan sesuatu dari mulut, sementara
mereka yang menggosipkan saya membicarakan
orang di dalam hatinya.
Jadi, yang kelihatan menjadi tukang gosip saya
dan mereka yang mengumpat di dalam hati tetap
terlihat seperti malaikat.
Pipi kiri dan pipi kanan
Jadi, rencana mulia itu selalu tertunda-tunda,
sampai belasan tahun lamanya. Saat saya sudah
merasa siap, ada saja pikiran yang tiba-tiba
muncul yang mengatakan mengapa harus
memaafkan, lha wong mereka memang salah kok,
mereka memang yang jahat pada saya, mereka ini
dan mereka itu. Dan, rencana itu senantiasa
kandas di tengah jalan.
Apalagi kalau mengingat kalimat dalam ajaran
agama saya yang mengatakan, orang menampar
pipi kirimu berikanlah juga pipi kananmu. Wah…
itu benar tak masuk akal untuk saya. Kalau orang
mencium pipi kiri saya, maka saya tak hanya akan
memberikan pipi kanan saya, tetapi semua area
di tubuh saya.
Memberikan pipi untuk ditampar? Ya, mending
saya tampar balik dan tak hanya kedua pipinya
kalau bisa. Maka, memaafkan menjadi sebuah hal
yang tak masuk akal. Terutama meminjam alasan
teman saya yang “bijaksana” yang senantiasa
mengatakan, “Yah… kita kan manusia biasa,
sangat normal kalau kita punya banyak
kelemahan dan susah memaafkan.”
Awalnya saya sangat menyetujui pikiran teman
saya itu. Saya ini kan tak sempurna, jadi normal
kalau yang tak sempurna menghasilkan sesuatu
yang tak sempurna, bukan? Yang tak normal
adalah bila yang tak sempurna mampu
menghasilkan yang sempurna.
Namun, dengan berjalannya waktu, setelah
dipikir-pikir lagi, bagaimana teman saya bisa
mengatakan saya manusia yang punya banyak
kelemahan, termasuk lemah syahwat, tetapi
memiliki kekuatan menghina, mengejek, dan
menjelekkan orang?
Saya pikir kalimat yang kelihatan bijaksana dari
mulut teman saya itu hanyalah alasan untuk tidak
memberi kesempatan kepada dirinya
memanfaatkan kekuatan yang ada pada dirinya
sendiri. Atau mungkin ia tak bisa lagi melihat ia
punya kekuatan karena seringnya mengatakan
manusia punya kelemahan. Dengan kata
bijaksananya itu ia seperti ingin mengajarkan
saya untuk tetap tinggal dalam kelemahan itu.
Pemadam kebakaran
Mengapa saya senantiasa memilih dan merasa
nyaman untuk berdiri dan mengaminkan saya
punya banyak kelemahan, tetapi tak mau—bukan
tak mampu—mencoba memberanikan diri
meloncat ke sisi di mana saya punya kekuatan.
Kalau saya punya kekuatan untuk menghina dan
menyakiti orang, mengapa saya tak menggunakan
kekuatan itu untuk memaafkan kembali mereka
yang telah membuat hidup saya bertahun
lamanya seperti neraka?
Coba Anda perhatikan kalimat terakhir yang saya
tulis di atas. Mereka yang telah membuat hidup
saya seperti neraka. Sekali lagi, saya masih
memilih berdiri di sisi kelemahan saya sehingga
saya bisa menuliskan bahwa yang membuat
hidup saya sengsara seperti neraka bertahun
lamanya adalah mereka yang menyakiti saya.
Mari coba meloncat dengan saya ke sisi kekuatan
yang ada dalam diri saya. Kalau saja saya bisa
berdiri di sisi kekuatan saya, maka saya akan
menulis, yang membuat hidup saya sengsara
seperti nereka tak lain adalah diri saya dan bukan
mereka.
Namun, saya membiarkan diri saya terus berdiri
di sisi kelemahan saya sehingga neraka kebencian
itu terus menyala-nyala bertahun lamanya.
Selamatnya saya tak jadi gosong karena terbakar
amarah dan ketersinggungan.
Saya sekarang baru mau mencoba meloncat ke
sisi kekuatan yang ada pada diri saya karena pada
sisi yang baru ini saya akan seperti tim pemadam
kebakaran yang siap meluncurkan air lewat
pipanya yang besar dan dengan kekuatannya yang
dahsyat sehingga api yang membakar diharapkan
bisa dikalahkan. Diharapkan, karena belasan
tahun lalu kantor di mana saya bekerja terbakar
dan tim pemadam kebakaran datang dengan
pipanya yang besar, tetapi tak punya kekuatan
sehingga air yang keluar seperti orang buang air
kecil.
Jadi, bila air saya bisa keluar dengan deras, saya
tak perlu terbakar begitu lamanya. Karena air yang
memadamkan akan memadamkan pikiran negatif
saya dan saya siap memaafkan.
Orang lain bisa saja menjadi pencetus kebakaran,
tetapi saya yang harus bertanya apakah saya ingin
mempertahankan kebakaran itu atau tidak. Kalau
tidak, maka sayalah yang harus berperan sebagai
pemadam kebakaran dengan mempersiapkan
kekuatan agar airnya tetap bisa kelewi (keluar
maksudnya) secara maksimal.
Artinya, saya memang punya kelemahan, tetapi
saya tak bisa hanya berhenti di situ dan merasa
nyaman dengan kelemahan itu. Saya punya
kekuatan, saya harus mampu berdiri di sisi yang
positif ini. Dan satu hal yang akan saya ingat
terus, saya ini anggota pemadam kebakaran.
“Hmm… fireman? ABCD dong,” kata teman saya.
“Ai bo, cakep deh.”
Kalah atau Menang
1. Kalau Anda memutuskan memaafkan siapa
pun, baik itu musuh, lawan politik Anda, atau
orang yang menyakiti Anda, maka ingatlah,
tindakan Anda itu adalah tindakan mulia.
Bukankah ketika tiba saatnya Anda harus
menghadap Sang Pencipta, maka tindakan
mulialah yang diperlukan? Maka, jangan sampai
ketika datang waktunya yang tak seorang pun tahu
itu dan Anda tak bisa membuat janji terlebih
dahulu seperti kebiasaan Anda membuat janji
dengan dokter gigi langganan, Anda malah sedang
naik pitam dan menyimpan dendam di lemari
hati Anda.
2. Memaafkan adalah bukan soal kalah dan
menang. Memaafkan adalah soal keberanian dan
kemauan menjadi seorang pemadam kebakaran
atau tidak. Kalaupun Anda kemudian mampu
menjadi pemadam kebakaran dan Anda merasa
menang karenanya, itu pun bukan berarti Anda
menang atas musuh Anda, tetapi Anda
memenangi pertandingan melawan kekerasan hati
Anda. Itu yang membuat bila Anda mampu
memaafkan, maka Anda akan memiliki perasaan
yang luar biasa bak pemenang, bukan sebagai
manusia kalah perang.
3. Suatu hari teman ibu saya bercerita suaminya
mempunyai musuh bebuyutan sejak mereka
masih muda. Kebencian itu bahkan nyaris
berakhir dengan bentrok fisik. Suatu hari, setelah
puluhan tahun dendam itu bersarang di hati
keduanya, suami teman ibu saya itu menghadiri
sebuah acara perkawinan dan kebetulan musuh
lamanya juga hadir di acara itu. Suami teman ibu
saya duduk bersama teman-temannya. Datanglah
si musuh bebuyutan ini ke meja itu dan ia hanya
menyalami teman-teman lainnya dan tidak suami
teman ibu saya itu. Pada akhir acara, sebelum
para undangan pamit pulang, suami teman ibu
saya itu memutuskan untuk meninggalkan acara
itu terlebih dahulu. Setelah menyalami teman-
temannya dalam satu meja, ia mendatangi meja
di mana musuh bebuyutannya itu duduk dan
menyalaminya, menanyakan kabarnya, kemudian
pamit pulang. Nah, kalau Anda ada pada kondisi
seperti itu, Anda mau menjadi seperti suami
teman ibu saya atau tetap menjadi si musuh
bebuyutan?
4. Memaafkan sama sekali bukan sebuah
tindakan yang sulit. Anda mau atau tidak, itu
masalahnya. ****