.nav .select a:hover, .nav .select li:hover a { background: url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif); padding:0 0 0 15px; cursor:pointer; color:#2b3238; } .nav .select a b{ font-weight:bold; } .nav .select a:hover b, .nav .select li:hover a b { display:block; float:left; padding:0 30px 0 15px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif) right top; cursor:pointer; } .nav .select_sub { display:none; } /* IE6 only */ .nav table { border-collapse:collapse; margin:-1px; font-size:1em; width:0; height:0; } .nav .sub { display:table; margin:0 auto; padding:0; list-style:none; } .nav .sub_active .current_sub a, .nav .sub_active a:hover { background:transparent; color:#2b3238; } .nav .select :hover .select_sub, .nav .current .show { display:block; position:absolute; width:100%; top:35px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiymSfVH5Ul8cza1nLnF3F-r-Qbn6cisADvu2xvhIQa0bNU2rpR3z3WoG68k-J18bUZZPz4U0-wZnGUCUVtkOAug-2xsm3md3Jn9jPzZehoLoE6xFIPouMt4NmWltBtUTv0gXB4tcCzNxI/s1600/back.gif); padding:0; z-index:100; left:0; text-align:center; } .nav .current .show { z-index:10; } .nav .select :hover .sub li a, .nav .current .show .sub li a { display:block; float:left; background:transparent; padding:0 10px 0 10px; margin:0; white-space:nowrap; border:0; color:#2b3238; } .nav .current .sub li.sub_show a { color:#2b3238; cursor:default; } .nav .select .sub li a { font-weight:normal; } .nav .select :hover .sub li a:hover, .nav .current .sub li a:hover { visibility:visible; color:#73a0d2; }

catatan-admep.blogspot.com

catatan-admep.blogspot.com

Kamis, 08 September 2011

Mencintai Dalam Keheningan

Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, termasuk saya tentunya,
mencintai orang merupakan proses yang panjang
dan melelahkan.
Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan
yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk
berlaku normal meski semuanya menjadi
abnormal.
Lelah ketika mata menjadi buta akibat dari
perasaan yang membius tanpa ampun.
Lelah ketika imaginasi menjadi liar oleh khayalan
yang terlalu tinggi.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan
yang tidak pasti.
Lelah untuk mencari suatu alasan yang tepat
untuk sekedar melempar sesimpul senyum atau
sebuah sapaan “apa kabar…”
Lelah untuk secuil kesempatan akan sebuah
moment kebersamaan.
Lelah untuk menahan keinginan untuk
melihatnya..
Lelah untuk mencari secuil kesempatan
menyentuh atau membauinya.
Lelah dan lelah dan lelah..
Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang
lebih saya pilih..
Diam menunggu sang waktu memberi sebuah
moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali
dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang
mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan
bertanya “apakah aku cukup pantas?”
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari
rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap
menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila
karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..
Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang
saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha
untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah
sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski
sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan
yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah
beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak
akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur
membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti
digerakan untuk bertindak bodoh.
Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat
orang bodoh? Tentu tidak.
Namun itu pula yang saya rasakan selama hampir
lebih dari 1 tahun.
Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya
rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat
dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari
mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa
untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun
tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak
terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang
menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali
untuk mengatakan “Aku mencintaimu”
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi
bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit
dan cemburu dalam sebaris ucapan “aku baik –
baik saja”
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat
rasa pedih yang teramat dalam.
Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai
melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling
pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa,
dalam tradisi agama yang saya anut, akan
menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan dus menjadi berkat atas
segala rasa perih yang senantiasa ada didalam
diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan
kepada Sang Hidup..
Bahwa mencintai seseorang itu seperti
memanggul sebuah salib.
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk
tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar
sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang
susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya
berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari
mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang
luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa
perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan
kehilangan dalam hidup..
Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah
saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk
KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa
tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan
untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun
sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk mengatakan “Aku
mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan
semuanya, hanya untuk kita berdua saja”
Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan
tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi
saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.
Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg
teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak
mencintainya.
Saya sadar ini adalah sebuah salib yang harus
saya pikul.
Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam
dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang
teramat dalam.
Dari saya yang akan selalu mencintaimu dalam
diam

Tidak ada komentar: