.nav .select a:hover, .nav .select li:hover a { background: url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif); padding:0 0 0 15px; cursor:pointer; color:#2b3238; } .nav .select a b{ font-weight:bold; } .nav .select a:hover b, .nav .select li:hover a b { display:block; float:left; padding:0 30px 0 15px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif) right top; cursor:pointer; } .nav .select_sub { display:none; } /* IE6 only */ .nav table { border-collapse:collapse; margin:-1px; font-size:1em; width:0; height:0; } .nav .sub { display:table; margin:0 auto; padding:0; list-style:none; } .nav .sub_active .current_sub a, .nav .sub_active a:hover { background:transparent; color:#2b3238; } .nav .select :hover .select_sub, .nav .current .show { display:block; position:absolute; width:100%; top:35px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiymSfVH5Ul8cza1nLnF3F-r-Qbn6cisADvu2xvhIQa0bNU2rpR3z3WoG68k-J18bUZZPz4U0-wZnGUCUVtkOAug-2xsm3md3Jn9jPzZehoLoE6xFIPouMt4NmWltBtUTv0gXB4tcCzNxI/s1600/back.gif); padding:0; z-index:100; left:0; text-align:center; } .nav .current .show { z-index:10; } .nav .select :hover .sub li a, .nav .current .show .sub li a { display:block; float:left; background:transparent; padding:0 10px 0 10px; margin:0; white-space:nowrap; border:0; color:#2b3238; } .nav .current .sub li.sub_show a { color:#2b3238; cursor:default; } .nav .select .sub li a { font-weight:normal; } .nav .select :hover .sub li a:hover, .nav .current .sub li a:hover { visibility:visible; color:#73a0d2; }

catatan-admep.blogspot.com

catatan-admep.blogspot.com

Selasa, 06 September 2011

Seberapa Penting Menjadi Jenius?

barusan ada email dari sebelah... rasanya ini bisa
jadi pencerahan buat indonesia baru...
Seberapa Penting Menjadi Jenius?
Kejeniusan adalah berpikir dalam cara yang
belum pernah dilakukan orang. Orang Jenius
mampu melihat sesuatu yang luput dari
penglihatan orang lain. Mereka melihat
kemungkinan di antara ketidakmungkinan.
Mereka bisa menjabarkan paket-paket
pengetahuan yang diterimanya dalam cara baru
dan produktif. (Todd Siler)
Definisi jenius yang saya kenal sebelumnya
terakumulasikan dalam sosok-sosok Plato, Adam
Smith, Thomas Alpha Edison, atau Einstein. Tentu
sudah terbayang hebatnya orang jenius kalau kita
melihat kredibilitas orang-orang tersebut dalam
dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, sekolah
memperkenalkan sosok-sosok jenius itu hanya
dalam teori-teorinya yang harus dihapal, diujikan,
dan pada akhirnya dilupakan, karena secara
kontekstual teori-teori itu hampir tak bisa
dipahami dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Adapun apa sesungguhnya kejeniusan para tokoh
tersebut nyaris tak terungkap.
Akibatnya, kejeniusan begitu mengawang, seolah
tak tersentuh kecuali oleh orang-orang yang
berpendidikan tinggi dan mau membaca buku-
buku tebal dan betah berjam-jam berada di
sebuah laboratorium. Padahal, kejeniusan tokoh-
tokoh besar seperti Einstein dkk hanya terletak
pada dua hal, yaitu kemauan untuk berpikir
mendalam tentang sebuah fenomena dan berani
untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang
yang berbeda dari kebanyakan orang pada
zamannya. Untuk melakukan dua hal tersebut,
siapapun bisa, tak terkecuali anak-anak kita.
Nah, bagaimana kita mengarahkan anak-anak
menjadi seperti itu? Kalau pendidikan itu
hanyalah menghapal teori-teori, maka kejeniusan
memang akan sulit dieksplorasi. Seorang Edison,
seperti yang sudah kita tahu, ternyata melakukan
ribuan kali percobaan yang gagal sebelum
menemukan bola lampu listrik yang hari ini kita
nikmati hasilnya. Demikian halnya dengan
lahirnya teori Newton yang konon tercetus saat
Newton berada di bawah pohon apel dan melihat
buah apel jatuh ke tanah. Begitu juga dengan
Wright bersaudara yang berhasil membuat
pesawat terbang, tentu mereka telah melakukan
banyak coba-coba sebelum hal itu terwujud.
Semua fakta itu menunjukkan bahwa
sesungguhnya, persentuhan dengan dunia nyata
adalah jalan paling realistis menuju lahirnya para
jenius-jenius baru. Membaur dengan dunia nyata
akan menjadi pemantik gagasan untuk
menyelesaikan berbagai masalah yang ada di
dunia ini.
Jangan lupa, bahwa para jenius itu sebenarnya
bertebaran di mana-mana, meski mungkin tak
semua dikenal masyarakat luas. Mereka adalah
orang-orang yang berhasil menemukan dan
membuat sesuatu yang berguna bagi orang
banyak. Kelompok orang-orang itu di antaranya
adalah penemu peniti, penemu jarum jahit,
penemu karet gelang, pembuat tungku arang, para
petani, para nelayan, dan lain-lain yang tanpa
dijuluki seorang jenius, mereka sesungguhnya
para praktisi iilmu pengetahuan di bidangnya
masing-masing.
Jadi, terlebih bagi anak usia dini, pendidikan awal
yang penting bagi mereka adalah banyak melihat
ragam hal secara nyata. Tentang teori dari
pengalaman-pengalam an yang mereka temui bisa
ditelaah kemudian. Tak ada alasan bagi sekolah-
sekolah yang ‘pas-pasan’ perlengkapan belajarnya
untuk meniadakan eksperimentasi. Kalau
laboratorium statis berupa ruangan sulit
terealisasi gara-gara biaya, mengapa tak dicoba
laboratorium dunia nyata yang seringkali bisa
dijelajahi secara gratis.
Seberapa penting menjadi jenius? Jika pengertian
jenius adalah hafal perkalian atau bisa
menyelesaikan soal-soal persamaan dan
pertidaksamaan, maka biarlah anak-anak tumbuh
sesuai kemampuannya; tapi jika jenius itu berarti
memiliki kemampuan untuk menyelesaikan
masalah, maka betapa pentingnya menjadikan
anak-anak kita jenius, karena bukankah esensi
hidup adalah menyelesaikan persoalan…
Salam pendidikan!

Tidak ada komentar: