Sebelumnya ini adalah cerpen terfavorit saya. Cerpen yang entah keberapa kali yang sudah saya tulis. Ini kisah yang saya suka karena mengangkat tema dari peristiwa hujan :D Happy Reading ^^ I Hope It's Your Favorite Posts like me :D
Berbagai macam Software,Game,Informasi membantu,Langkah-langkah unik,dan Cerpen ada DISINI
Kamis, 20 Desember 2012
Seusai Rinai Hujan
Sebelumnya ini adalah cerpen terfavorit saya. Cerpen yang entah keberapa kali yang sudah saya tulis. Ini kisah yang saya suka karena mengangkat tema dari peristiwa hujan :D Happy Reading ^^ I Hope It's Your Favorite Posts like me :D
SEUSAI RINAI HUJAN
Langit kelabu, hawa dingin tengah
merasuk. Rintik-rintik air tengah menjatuhi bumi. Berbondong-bondong, tampaknya
mereka takut sendiri. Ya, hujan selalu jatuh berbondong-bondong. Bukan sendiri.
Bagi sebagian orang, hujan bukanlah symbol senyuman, semua kegiatan seakan
berhenti bila hujan datang. Merutuki diri sendiri bahwa hujan adalah sebuah disaster.
Aku berjalan menapaki koridor menuju
kelas. Pagi ini tak secerah biasanya, langit kelabu…hujan pun turun. Bau khas
hujan yang selalu ku nanti, yang selalu ku suka. Percampuran bau tanah dan air,
yang seakan menggelitik hidungku. Bagiku, hujan bukanlah halangan untuk maju,
namun hujan adalah tantangan untuk maju. Siapa yang datang di tengah guyuran
hujan, dialah pemenang. Seleksi alam.
Kelasku masih sepi….hening. Hanya
derai air hujan yang bertalu-talu. Bangku itu masih kosong, teman semejaku juga
belum datang. Aku segera membuka i-podku. Mendegarkan musik lebih baik daripada
aku sendiri di ruang pucat yang dingin ini. Langkah lebar yang tercipta
mengalihkan perhatiaanku. Dengan senyum indahnya, dia menoleh kearahku. Prinsipnya
sama denganku, hujan bukanlah halangan
untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju.
Senyum yang mencair itu nyatanya
telah menghangatkan pagiku. Seusai rinai hujan ku dapatkan mata tembaga itu
menatap lekat diriku. Seusai rinai hujan….
****
Hujan kembali menemani soreku. Sabtu
sore, bagi sebagian orang, hujan di hari ini adalah hal yang sangat
menyebalkan. Namun, sekali lagi bagiku, hujan
bukanlah halangan untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju.
Halte yang tadinya ramai mulai sepi, namun aku masih duduk manis disini. Karena
ada kamu, menunggu hujan reda menolak setiap angkutan yang melewati aku dan dia.
Momen kebersamaan yang dingin, sedingin udara di depan kita dan sedingin hatimu
yang beku. Tetes hujan yang terakhir, kau dan aku serempak beranjak dari kursi
menuju angkutan yang sudah menunggu. Lagi-lagi, seusai rinai hujan ku dapatkan
mata tembaga itu menatap lekat diriku.
Malam ini, terang benderang. Sayang,
hujan tak lagi turun. Turunnya hujan bisa mengobati rinduku padanya. Rindu yang
selalu membuncah kapan saja. Menyergapku tiba-tiba, membuatku ingin melihatnya,
melihat tepat di dalam mata tembaga itu. Namun, aku tak bisa. Aku tak kuasa.
Keputusasaan yang kudapat. Manerka apa
arti senyum itu, arti tatapan yang menusuk relungku, dan arti kedekatan yang
tercipta. Mungkinkah dia punya rasa yang sama? Rasa yang terpendam, rasa yang
terselubung dalam jiwa. Rasa yang selalu bergemuruh di dalam dada. Rasa yang
sudah terlanjur melekat erat di urat nadi. Ku mohon, untuk sekejap saja dia
balas rasa ini.
****
Hujan lebat, angin kencang
mengibarkan dedaunan yang menimbulkan kekacauan, petir saling bersahutan.
Sausana yang buatku terdiam, namun bukan takut. Bukan takut karena hujan kali
ini, namun aku takut bila kehilangan dia. Kehilangan tatapan tembaganya seusai
rinai hujan. Ya, sesusai rinai hujan. Itu yang selalu ia ucap.
“Audy, tunggu bis bareng ya? Tunggu
sampai hujan reda…. Seusai rinai hujan,” ucap Raka dengan kedipan mata yang
nyatanya membuat kakiku tiba-tiba lemas. Membuat kepalaku hanya bisa
mengangguk.
“I….i..y..y..a..a..,” hanya itu yang
dapat terucap. Tergagap. Walau begitu, dia tetap tersenyum. Berusaha
mengimbangi langkahku yang kian kaku. Sementara aku tergugu dalam bisu.
Dalam kurungan hujan aku terdiam,
berusaha menata serapi mungkin hati ini, yang ternyata sangat berantakan. Begitu
tertariknya ia pada hujan, terbisu seperti menatap proyeksi besar di hadapannya.
Begitu memakukan tatapan disetiap rinai, disetiap irama yang tercipta. Begitu kuat
rasa yang ia miliki pada peristiwa alam yang satu ini, mendetail setiap bagan
yang jatuh…..
“Raka… hujan udah reda, kayaknya ini
bis yang terakhir. Naik?” tawarku pada Raka, yang masih terpaku.
“Belum sepenuhnya, kalau ini bis
terakhir, silahkan naik dulu.” Aku bimbang, aku takut ini memang yang terakhir,
namun aku juga ingin bersamanya, setidaknya lebih lama lagi. Seusai rinai hujan….
“Aku temani kamu….”
****
Tak ada sepatah kata pun yang
terucap, hanya lewat irama hujan yang dapat satukan hatiku dan hatinya, setiap
ketukan yang dihasilkan rinai hujan…. Ya, hujan bukanlah halangan untuk maju,
namun hujan adalah tantangan untuk maju. Begitulah kata hatiku, terangkai untuk
tenangkan jiwa yang sepi, milik orang yang kusayangi. Selalu.
The
Power of Love, kata orang. Kekuatan cinta yang kadang buatku lebih berani,
lebih kuat dari hari kemarin. Dia masih sama, masih diam menunggu sang hujan
reda, dan aku masih disini, menemani dalam diam pula.
“Dy, ayo pulang…. Mau pulang kan?”
“Iya…,” aku mengikutinya dari
belakang menuju kereta mesin paling indah dalam hidupku. Itu karena ada dia
disampingku, lebih tepatnya aku yang menemaninya.
Hujan tak lagi pilu bagiku, hujan
tak lagi petaka bagiku, namun kini hujan adalah bagian dari hidupku. Karena
hujan pertemukan aku dan dia, karena hujan membungkamkan aku dalam bisunya……
Tak ada kata indah yang terangkai, hanya kebisuan yang tercipta. Terjebak dalam
irama yang sama, hujan.
****
Hujan…..suatu proses yang panjang,
melewati setiap jengkal belahan bumi ini, mengambil uap-uap air dan
mengumpulkannya. Andai cintaku bisa ter-analogi, mungkin aku seperti hujan…yang
butuh proses panjang untuk mencintai sesorang. Namun, aku tak mau pergi dan
datang begitu saja….aku ingin lebih lama menemaninya dalam rinai hujan. Dalam
suatu kebisuan, dalam suatu tatapan yang tak dapat kuartikan.
Aku hanya terdiam, terpaku, sama
sepertinya. Aku sudah terkontaminasi akan tatapannya akan hujan. Aku menunggu
sendiri, tanpanya. Tatapan itu selalu kurindukan, sama seperti aku merindukan
rinai hujan. Setiap kenangan yang tercipta, ada hujan sebagai latarnya. Aku
rasa, rindu ini mulai menyergap saat dia tak ada….
Sore yang dingin, aku duduk didepan
komputer ditemani segelas coklat panas dan tentunya rinai hujan yang tak
kunjung reda sedari tadi. Banyak email masuk kedalam akunku, namun hanya satu
nama yang buatku terpaku.
From : rakapranataarnayudha@hotmail.com
Subjek : Hujan…
Hai,
maaf tadi aku tak dapat menunggu hujan bersamamu. Tulangku patah saat lomba
karate, aku dibantai habis-habisan. Oh ya, hujan hari ini terasa hampa….. L
Subjek : Reply…Hujan
Tak
apa…. Cepat sembuh ya? J Aku ingin menunggu hujan bersama
sahabat yang paling ku sayangi. Aku juga merasa hujan kali ini hampa…. L
Subjek : ^__^
Doakan
saja…. Kamu memang sahabat terbaik. Audy…, aku merindukan hujan dan kamu….
Aku
hanya terpaku. Tak ku balas pesannya. Kalimat yang buatku terbang
melayang…..aku tak menyangka seorang Raka Pranata Mangkuhardjono dapat
mengatakan rindu padaku. Apakah Tuhan kabulkan permintaanku? Apakah dia dapat
rasakan apa yang kurasakan? Membalas cintaku? Cinta yang selama itu kupendam
sendiri? Banyak pertanyaan yang berkeliaran diotakku, namun ku coba untuk
menyimpannya sendiri…mungkin suatu hari semua akan terungkap…
****
Derap langkah itu membuat kepalaku
cepat-cepat menoleh. Menuju sumber suara yang dihasilkan oleh sepasang sepatu
itu. Membuat setiap kegiatanku berhenti sejenak, menatap wajah tampan itu.
Menembus mata tembaganya dengan mata kecilku. Senyumnya dapat lelehkan hatiku,
membuat hariku lebih bergelora. Suaranya dapat mendamaikan hatiku, membuat
otakku berimajinasi tentang aku dan dia. Lagi-lagi, saat dia melangkah menuju
mejanya, hujan berhenti seketika. Seusai rinai hujan….
Matahari kian tampakkan
pesonanya…meninggalkan sisa-sisa hujan pagi ini. Menghangatkan hingga nanti,
namun akan terkalahkan gagahnya hujan. Hujan, bagaikan serdadu perang yang siap
bertempur. Hujan, bagai tak terkalahkan, dengan angkuhnya menyapu dunia dengan
pasukannya, dengan menambah kompi pasukannya dan dengan halilintar yang saling
bersahutan. Hujan, bagaikan cintaku padanya. Hujan, bagaikan air mataku
untuknya. Hujan, bagaikan serangakaian kata yang mengandung banyak makna.
Hujan, bagaikan rinduku padanya…..
****
Terik matahari semakin menyengat.
Membuat tubuhku hampir terbakar, hujan hari ini hanya datang tadi pagi. Bulan
ini musim hujan berkurang intensitasnya, Indonesia bersiap menghadapi musim
kemarau April nanti. Hal inilah yang buatku sedih….tak ada hujan, maka aku tak
dapat mengobati rindu. Akankah rinai hujan terakhir akan berakhir bahagia?
Entahlah…. Kawan, jika hujan tak lagi datang untuknya, aku dengan sendirinya
akan menjadi hujan untuknya. Menjadi hujan yang akan mengobati lukanya,
menghiasi hari-harinya yang beku….
“Audy…musim hujan udah berlalu nih…aku
pasti merindukannya.” ucap Raka padaku. Aku terkesiap, tiba-tiba aku salah
tingkah. Ya Allah, kenapa engkau tanamkan rasa ini padaku? Apakah dia belahan
jiwaku?
“Hah? Aku juga…. Ehm, emang enggak
rindu aku?”
“Setiap hari… kan aku pernah bilang,
aku merindukan hujan dan kamu. Tanpa kamu, aku enggak bisa bertahan seperti
ini. Makasih, dy.”
“Makasih buat apa?”
“Makasih karena kamu udah jadi
sahabat terbaik aku…. Aku sayang kamu, Audy.” Tatapan itu terus menghantui
langkahku. Suara itu terus melayang-layang di benakku. Aku hanya bisu, aku
terpaku.
“Audy…ayo naik. Percuma nunggu
hujan, enggak bakal ada hujan lagi,” ucap Raka saat aku hanya diam. Nampaknya
dia mulai marah, marah karena aku hanya bisu…mematung bagai arca Rara
Jonggrang. “Terserah lah….!” Nah…ketika amarah telah menyapanya, kalaplah aku…
****
Detik demi detik telah kulalui
bersamanya….rintik demi rintik telah kulewati bersamanya. Tak terasa musim
telah berganti, aku hanya meratapi yang telah terjadi. Dia tetap diam, aku
serba salah.
“Raka….hujannya cukup deras ya? Ehm,
kamu masih marah ya sama aku?” suaraku bergetar. Hujan dihadapanku cukup deras
untuk musim kemarau, namun tak sederas air mata dihatiku. Raka masih menatap
hujan dengan seksama, dikiranya ini hujan terakhir.
“Aku enggak marah sama kamu.” Hanya
itu yang terucap dari bibirnya. Aku diam, hanya memandang hujan yang
berangsur-angsur reda. “Aku cinta kamu, Audy…sama seperti aku mencintai hujan.”
Kalimat itu membuat aku terpaku, hanya diam. Lagi-lagi, mata tembaga itu menatap
lekat diriku. Seusai rinai hujan….
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar