.nav .select a:hover, .nav .select li:hover a { background: url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif); padding:0 0 0 15px; cursor:pointer; color:#2b3238; } .nav .select a b{ font-weight:bold; } .nav .select a:hover b, .nav .select li:hover a b { display:block; float:left; padding:0 30px 0 15px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzuXkABR4btTIlf2jw-SVDHXdfPYaHRu9PNC4nbr8Gbm1e0-ebIhgHc7iqK7mTd2rVKMt-g2WZ7oqgbXiC3XQ2fliK-81a8So5i0Mh3_lFUWE1DYGFo8eQy6rnrULj09SEAFbl2t6Vvy8/s1600/hover.gif) right top; cursor:pointer; } .nav .select_sub { display:none; } /* IE6 only */ .nav table { border-collapse:collapse; margin:-1px; font-size:1em; width:0; height:0; } .nav .sub { display:table; margin:0 auto; padding:0; list-style:none; } .nav .sub_active .current_sub a, .nav .sub_active a:hover { background:transparent; color:#2b3238; } .nav .select :hover .select_sub, .nav .current .show { display:block; position:absolute; width:100%; top:35px; background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiymSfVH5Ul8cza1nLnF3F-r-Qbn6cisADvu2xvhIQa0bNU2rpR3z3WoG68k-J18bUZZPz4U0-wZnGUCUVtkOAug-2xsm3md3Jn9jPzZehoLoE6xFIPouMt4NmWltBtUTv0gXB4tcCzNxI/s1600/back.gif); padding:0; z-index:100; left:0; text-align:center; } .nav .current .show { z-index:10; } .nav .select :hover .sub li a, .nav .current .show .sub li a { display:block; float:left; background:transparent; padding:0 10px 0 10px; margin:0; white-space:nowrap; border:0; color:#2b3238; } .nav .current .sub li.sub_show a { color:#2b3238; cursor:default; } .nav .select .sub li a { font-weight:normal; } .nav .select :hover .sub li a:hover, .nav .current .sub li a:hover { visibility:visible; color:#73a0d2; }

catatan-admep.blogspot.com

catatan-admep.blogspot.com

Kamis, 20 Desember 2012

Seusai Rinai Hujan


             Sebelumnya ini adalah cerpen terfavorit saya. Cerpen yang entah keberapa kali yang sudah saya tulis. Ini kisah yang saya suka karena mengangkat tema dari peristiwa hujan :D Happy Reading ^^ I Hope It's Your Favorite Posts like me :D




SEUSAI  RINAI HUJAN
            Langit kelabu, hawa dingin tengah merasuk. Rintik-rintik air tengah menjatuhi bumi. Berbondong-bondong, tampaknya mereka takut sendiri. Ya, hujan selalu jatuh berbondong-bondong. Bukan sendiri. Bagi sebagian orang, hujan bukanlah symbol senyuman, semua kegiatan seakan berhenti bila hujan datang. Merutuki diri sendiri bahwa hujan adalah sebuah disaster.
            Aku berjalan menapaki koridor menuju kelas. Pagi ini tak secerah biasanya, langit kelabu…hujan pun turun. Bau khas hujan yang selalu ku nanti, yang selalu ku suka. Percampuran bau tanah dan air, yang seakan menggelitik hidungku. Bagiku, hujan bukanlah halangan untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju. Siapa yang datang di tengah guyuran hujan, dialah pemenang. Seleksi alam.
            Kelasku masih sepi….hening. Hanya derai air hujan yang bertalu-talu. Bangku itu masih kosong, teman semejaku juga belum datang. Aku segera membuka i-podku. Mendegarkan musik lebih baik daripada aku sendiri di ruang pucat yang dingin ini. Langkah lebar yang tercipta mengalihkan perhatiaanku. Dengan senyum indahnya, dia menoleh kearahku. Prinsipnya sama denganku, hujan  bukanlah halangan untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju.
            Senyum yang mencair itu nyatanya telah menghangatkan pagiku. Seusai rinai hujan ku dapatkan mata tembaga itu menatap lekat diriku. Seusai rinai hujan….
****
            Hujan kembali menemani soreku. Sabtu sore, bagi sebagian orang, hujan di hari ini adalah hal yang sangat menyebalkan. Namun, sekali lagi bagiku, hujan  bukanlah halangan untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju. Halte yang tadinya ramai mulai sepi, namun aku masih duduk manis disini. Karena ada kamu, menunggu hujan reda menolak setiap angkutan yang melewati aku dan dia. Momen kebersamaan yang dingin, sedingin udara di depan kita dan sedingin hatimu yang beku. Tetes hujan yang terakhir, kau dan aku serempak beranjak dari kursi menuju angkutan yang sudah menunggu. Lagi-lagi, seusai rinai hujan ku dapatkan mata tembaga itu menatap lekat diriku.
            Malam ini, terang benderang. Sayang, hujan tak lagi turun. Turunnya hujan bisa mengobati rinduku padanya. Rindu yang selalu membuncah kapan saja. Menyergapku tiba-tiba, membuatku ingin melihatnya, melihat tepat di dalam mata tembaga itu. Namun, aku tak bisa. Aku tak kuasa.
            Keputusasaan yang kudapat. Manerka apa arti senyum itu, arti tatapan yang menusuk relungku, dan arti kedekatan yang tercipta. Mungkinkah dia punya rasa yang sama? Rasa yang terpendam, rasa yang terselubung dalam jiwa. Rasa yang selalu bergemuruh di dalam dada. Rasa yang sudah terlanjur melekat erat di urat nadi. Ku mohon, untuk sekejap saja dia balas rasa ini.
****
            Hujan lebat, angin kencang mengibarkan dedaunan yang menimbulkan kekacauan, petir saling bersahutan. Sausana yang buatku terdiam, namun bukan takut. Bukan takut karena hujan kali ini, namun aku takut bila kehilangan dia. Kehilangan tatapan tembaganya seusai rinai hujan. Ya, sesusai rinai hujan. Itu yang selalu ia ucap.
            “Audy, tunggu bis bareng ya? Tunggu sampai hujan reda…. Seusai rinai hujan,” ucap Raka dengan kedipan mata yang nyatanya membuat kakiku tiba-tiba lemas. Membuat kepalaku hanya bisa mengangguk.
            “I….i..y..y..a..a..,” hanya itu yang dapat terucap. Tergagap. Walau begitu, dia tetap tersenyum. Berusaha mengimbangi langkahku yang kian kaku. Sementara aku tergugu dalam bisu.
            Dalam kurungan hujan aku terdiam, berusaha menata serapi mungkin hati ini, yang ternyata sangat berantakan. Begitu tertariknya ia pada hujan, terbisu seperti menatap proyeksi besar di hadapannya. Begitu memakukan tatapan disetiap rinai, disetiap irama yang tercipta. Begitu kuat rasa yang ia miliki pada peristiwa alam yang satu ini, mendetail setiap bagan yang jatuh…..
            “Raka… hujan udah reda, kayaknya ini bis yang terakhir. Naik?” tawarku pada Raka, yang masih terpaku.
            “Belum sepenuhnya, kalau ini bis terakhir, silahkan naik dulu.” Aku bimbang, aku takut ini memang yang terakhir, namun aku juga ingin bersamanya, setidaknya lebih lama lagi. Seusai rinai hujan….
            “Aku temani kamu….”
****
            Tak ada sepatah kata pun yang terucap, hanya lewat irama hujan yang dapat satukan hatiku dan hatinya, setiap ketukan yang dihasilkan rinai hujan…. Ya, hujan bukanlah halangan untuk maju, namun hujan adalah tantangan untuk maju. Begitulah kata hatiku, terangkai untuk tenangkan jiwa yang sepi, milik orang yang kusayangi. Selalu.
            The Power of Love, kata orang. Kekuatan cinta yang kadang buatku lebih berani, lebih kuat dari hari kemarin. Dia masih sama, masih diam menunggu sang hujan reda, dan aku masih disini, menemani dalam diam pula.
            “Dy, ayo pulang…. Mau pulang kan?”
            “Iya…,” aku mengikutinya dari belakang menuju kereta mesin paling indah dalam hidupku. Itu karena ada dia disampingku, lebih tepatnya aku yang menemaninya.
            Hujan tak lagi pilu bagiku, hujan tak lagi petaka bagiku, namun kini hujan adalah bagian dari hidupku. Karena hujan pertemukan aku dan dia, karena hujan membungkamkan aku dalam bisunya…… Tak ada kata indah yang terangkai, hanya kebisuan yang tercipta. Terjebak dalam irama yang sama, hujan.
****
            Hujan…..suatu proses yang panjang, melewati setiap jengkal belahan bumi ini, mengambil uap-uap air dan mengumpulkannya. Andai cintaku bisa ter-analogi, mungkin aku seperti hujan…yang butuh proses panjang untuk mencintai sesorang. Namun, aku tak mau pergi dan datang begitu saja….aku ingin lebih lama menemaninya dalam rinai hujan. Dalam suatu kebisuan, dalam suatu tatapan yang tak dapat kuartikan.
            Aku hanya terdiam, terpaku, sama sepertinya. Aku sudah terkontaminasi akan tatapannya akan hujan. Aku menunggu sendiri, tanpanya. Tatapan itu selalu kurindukan, sama seperti aku merindukan rinai hujan. Setiap kenangan yang tercipta, ada hujan sebagai latarnya. Aku rasa, rindu ini mulai menyergap saat dia tak ada….
            Sore yang dingin, aku duduk didepan komputer ditemani segelas coklat panas dan tentunya rinai hujan yang tak kunjung reda sedari tadi. Banyak email masuk kedalam akunku, namun hanya satu nama yang buatku terpaku.
            From               :           rakapranataarnayudha@hotmail.com
            To                   :           audysalichamulyacahyani@ymail.com
            Subjek            :           Hujan…
            Hai, maaf tadi aku tak dapat menunggu hujan bersamamu. Tulangku patah saat lomba karate, aku dibantai habis-habisan. Oh ya, hujan hari ini terasa hampa….. L
            From               :           audysalichamulyacahyani@ymail.com
            To                   :           rakapranataarnayudha@hotmail.com
            Subjek            :           Reply…Hujan
            Tak apa…. Cepat sembuh ya? J Aku ingin menunggu hujan bersama sahabat yang paling ku sayangi. Aku juga merasa hujan kali ini hampa…. L
            From               :           rakapranataarnayudha@hotmail.com
            To                   :           audysalichamuly@ymail.com
            Subjek            :           ^__^
            Doakan saja…. Kamu memang sahabat terbaik. Audy…, aku merindukan hujan dan kamu….
            Aku hanya terpaku. Tak ku balas pesannya. Kalimat yang buatku terbang melayang…..aku tak menyangka seorang Raka Pranata Mangkuhardjono dapat mengatakan rindu padaku. Apakah Tuhan kabulkan permintaanku? Apakah dia dapat rasakan apa yang kurasakan? Membalas cintaku? Cinta yang selama itu kupendam sendiri? Banyak pertanyaan yang berkeliaran diotakku, namun ku coba untuk menyimpannya sendiri…mungkin suatu hari semua akan terungkap…
****
            Derap langkah itu membuat kepalaku cepat-cepat menoleh. Menuju sumber suara yang dihasilkan oleh sepasang sepatu itu. Membuat setiap kegiatanku berhenti sejenak, menatap wajah tampan itu. Menembus mata tembaganya dengan mata kecilku. Senyumnya dapat lelehkan hatiku, membuat hariku lebih bergelora. Suaranya dapat mendamaikan hatiku, membuat otakku berimajinasi tentang aku dan dia. Lagi-lagi, saat dia melangkah menuju mejanya, hujan berhenti seketika. Seusai rinai hujan….
            Matahari kian tampakkan pesonanya…meninggalkan sisa-sisa hujan pagi ini. Menghangatkan hingga nanti, namun akan terkalahkan gagahnya hujan. Hujan, bagaikan serdadu perang yang siap bertempur. Hujan, bagai tak terkalahkan, dengan angkuhnya menyapu dunia dengan pasukannya, dengan menambah kompi pasukannya dan dengan halilintar yang saling bersahutan. Hujan, bagaikan cintaku padanya. Hujan, bagaikan air mataku untuknya. Hujan, bagaikan serangakaian kata yang mengandung banyak makna. Hujan, bagaikan rinduku padanya…..
****
            Terik matahari semakin menyengat. Membuat tubuhku hampir terbakar, hujan hari ini hanya datang tadi pagi. Bulan ini musim hujan berkurang intensitasnya, Indonesia bersiap menghadapi musim kemarau April nanti. Hal inilah yang buatku sedih….tak ada hujan, maka aku tak dapat mengobati rindu. Akankah rinai hujan terakhir akan berakhir bahagia? Entahlah…. Kawan, jika hujan tak lagi datang untuknya, aku dengan sendirinya akan menjadi hujan untuknya. Menjadi hujan yang akan mengobati lukanya, menghiasi hari-harinya yang beku….
            “Audy…musim hujan udah berlalu nih…aku pasti merindukannya.” ucap Raka padaku. Aku terkesiap, tiba-tiba aku salah tingkah. Ya Allah, kenapa engkau tanamkan rasa ini padaku? Apakah dia belahan jiwaku?
            “Hah? Aku juga…. Ehm, emang enggak rindu aku?”
            “Setiap hari… kan aku pernah bilang, aku merindukan hujan dan kamu. Tanpa kamu, aku enggak bisa bertahan seperti ini. Makasih, dy.”
            “Makasih buat apa?”
            “Makasih karena kamu udah jadi sahabat terbaik aku…. Aku sayang kamu, Audy.” Tatapan itu terus menghantui langkahku. Suara itu terus melayang-layang di benakku. Aku hanya bisu, aku terpaku.
            “Audy…ayo naik. Percuma nunggu hujan, enggak bakal ada hujan lagi,” ucap Raka saat aku hanya diam. Nampaknya dia mulai marah, marah karena aku hanya bisu…mematung bagai arca Rara Jonggrang. “Terserah lah….!” Nah…ketika amarah telah menyapanya, kalaplah aku…
****
            Detik demi detik telah kulalui bersamanya….rintik demi rintik telah kulewati bersamanya. Tak terasa musim telah berganti, aku hanya meratapi yang telah terjadi. Dia tetap diam, aku serba salah.
            “Raka….hujannya cukup deras ya? Ehm, kamu masih marah ya sama aku?” suaraku bergetar. Hujan dihadapanku cukup deras untuk musim kemarau, namun tak sederas air mata dihatiku. Raka masih menatap hujan dengan seksama, dikiranya ini hujan terakhir.
            “Aku enggak marah sama kamu.” Hanya itu yang terucap dari bibirnya. Aku diam, hanya memandang hujan yang berangsur-angsur reda. “Aku cinta kamu, Audy…sama seperti aku mencintai hujan.” Kalimat itu membuat aku terpaku, hanya diam. Lagi-lagi, mata tembaga itu menatap lekat diriku. Seusai rinai hujan….

Tidak ada komentar: